Feeds:
Posts
Comments

Archive for April, 2007

MENAKAR KOMITMEN PERJUANGAN

Oleh : Agung Wicaksono (Awie’)*

Rijalud Dakwah adalah seorang yang telah tertarbiyah secara intensif sehingga memiliki kesiapan untuk berjuang dan berkorban di jalan Allah. Ia juga berpotensi menjadi anashirut taghyir atau agen perubah di tengah masyarakat.  Oleh karena ia melakukan pekerjaan besar maka ia harus memiliki kemampuan dan daya tahan untuk melakukan perkerjaan itu. Ia juga harus memiliki karakter kuat, teguh, sabar, komitmen dan kesungguhan dalam berkerja (berdakwah). Di usia tarbiyah yang lebih dari 25 tahun di negeri ini, ternyata banyak hasil dari buah dakwah yang sudah bisa kita rasakan, mulai dari kemudahan kita untuk melakukan aktivitas dakwah, semakin besarnya tingkat penerimaan publik terhadap dakwah, sampai pada munculnya rijal dakwah yang sudah menjadi tokoh, baik lokal maupun nasional. Namun di sisi lain dalam perjalanannya tidak sedikit dari pekerjaan – pekerjaan dakwah yang belum tuntas, peluang – peluang yang belum teroptimalkan, yang semua ini membutuhkan kehadiran kader dakwah untuk masuk ke dalam ruang pekerjaan amal ini. 

Sebagaimana firman Allah dalam QS 33:23 : Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu – nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya). Kita sedang menunggu tampilnya rijal dakwah yang siap untuk meneruskan pekerjaan besar ini, pekerjaan yang butuh perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan bahkan untuk menyelesaikannya membutuhkan waktu lama. Selain itu, perkerjaan besar ini membutuhkan syarat kecukupan dan kecakapan kader dalam  mengisi peluang  – peluang amal.  

Oleh karenanya sudah saatnya para rijal dakwah menakar kembali komitmen perjuangannya, paling tidak ada 5 indikator untuk mengukur seberapa besar kesungguhan (komitmen)  perjuangan yang dimiliki oleh seorang kader : 1.       Responsif terhadap agenda dakwah (al fauriyatul littanfidz)Allah berfirman dalam QS. 29:69, ”Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”. 

Ayat tadi memberikan gambaran bahwa Allah memberikan motivasi kepada rijal dakwah untuk senantiasa berada pada orbit terdepan dalam merespon seruan dakwah. Ketika kita telah memilih dengan sadar bahwa dakwah adalah panglima, maka konsekuensinya adalah bagaimana seorang kader akan menyambut seruan itu tanapa reserve, sebagiamana sambutan sahabat Handzallah yang pada saat tu baru menikah dan menikmati malam pertamanya tiba – tiba ada seruan dari Rasulullah untuk berangkat  berjihad.  Sebagai manusia biasa bisa diyakini telah terjadi pergolakan hati antara merespon seruan dakwah dan keinginan untuk tetap tinggal bersama belahan hati. Namun ternyata Handzallah menunjukkan integritasanya sebagai seorang rijal dakwah. Ia berusaha memenuhi seruan dakwah hingga menemui kesyahidan. Dari kisah tersebut Handzallah telah memberikan inspirasi kepada kita untuk tetap memiliki komitmen perjuangan hingga menggapai kesyahidan. 

2.       Kemauan yang kuat  (quwwatul iradah)Di lapangan amal masih sering kita jumpai permasalahan kader yang terkait dengan kemauan untuk menyambut agenda dakwah. Melemahnya kemauan untuk merekrut dan membina, menurunnya semangat untuk menghadiri agenda dakwah, menghindari amanah, dan ketidakmauan untuk tetap berada pada komunitas dakwah merupakan kenyataan dari sekian banyak problematika yang harus segera diselesaikan.  Harus ada kemauan, obsesi, serta keyakinan yang besar agar kader tetap bisa eksis dalam aktivitas dakwah. Ya, rijal dakwah harus memiliki obsesi keimanan yang membuatnya merasa jenak untuk tetap berada pada ruang kecintaan  Allah dan Rasul-Nya.  

Kita melihat kisah Umair bin Al Hammam yang mengeluarkan kurma di tangannya, memakannya, lalu berkata, ”Jika aku hidup untuk makan kurma – kurma ini maka itu terlalu lama, lalu ia buang kurmanya dan bertempur di medan Badar hingga terbunuh”. Kemauan yang sangat luar biasa, perlu kekuatan intuisi dan ketajaman mata hati untuk bisa melaksanakannya dan itu telah dibuktikan oleh Umair bin Al Hammam untuk mendapatkan kehidupan yang abadi. Rijal dakwah sudah seharusnya melakukan evaluasi amal yang selama ini telah dilakukan, mengukur kembali komitmen perjuangan. Sudah tidak saatnya lagi rijal dawah masih menimbang – nimbang antara kepentingan pribadi dengan seruan dakwah. Di sinilah rijal dakwah bisa mengukur apakah selama ini dia telah memiliki komitmen perjuangan yang maksimal ataukah belum. 

3.       Tetap tekun  dalam melaksanakan da’wah (mutsabaratu ’alad da’wah)Tetap tekun di jalan dakwah merupakan salah satu konsekuensi dari keimanan. Iman bukanlah sekedar kata – kata yang diucapkan melainkan sebuah kewajiban dan tanggung jawab serta jihad yang membutuhkan kesabaran dan kekuatan. Tidak mungkin seorang rijal dakwah mengatakan kami percaya pada Islam dan dakwah tanpa berhadapan lebih dahulu dengan ujian dakwah. Rasulullah yang tetap tekun menjalankan aktivitas dakwahnya, walaupun harus melewati teror secara psikis, caci maki, fitnah dan bahkan perlawanan secara fisik dari orang – orang Quraisy, namun beliau tetap tekun dan sabar untuk tetap menjalankan aktivitas dakwah. Rijal dakwah akan bisa menakar seberapa besar komitmen perjuangannya apabila ia telah teruji di berbagai ujian dakwah, melewatinya dan kemudian tersenyum untuk memetik buah dakwah yang telah ditanamnya setelah sekian lama. Di sinilah kematangan seorang rijal ditentukan, ia akan semakin matang dan dewasa  dalam menyikapi persoalan – persoalan dakwah seteleh sekian lama berinteraksi dengan medan dakwah itu sendiri.   

4.       Mengerahkan potensi maksimal (taskhiirul amkinat).Rijal dakwah yang dibutuhkan sat ini adalah rijal yang memiliki kemampuan memelihara dan mengembangkan potensi kebaikan yang ada pada dirinya (tarqiyah tarbawiyah) yang mampu mengalirkan energi kebaikannya untuk mentransformasikan nilai – nilai Islam kepada masyarakat. Dia harus mampu mengkloning keshalehan pribadai menjadio keshalehan sosial. Dia belum dikatakan memiliki kesungguhan dalam komitmen perjuangan kecuali ia telah melakukan pekerjaan ini secara tulus. Mungkinkah seorang kader berdiam diri sementara ummat telah menunggu keterlibatannya dalam proyek amal? Karena kalau ia berdiam diri tidak mau mengerahkan seluruh potensinya, maka pada saat itu berarti ia telah menelantarkan para pendukung dakwah. 

5.       Mengalahkan udzur pribadi (mugholabatul i’dzar).Afwan saya tidak bisa hadir karena sibuk, afwan saya tidak bisa datang karena ngurus anak, atau mungkin afwan saya tidak bisa ikut syuraa karena capek. Itu kira – kira ungkapan – ungkapan yang sering kita dengarkan dari lapangan dakwah. Sibuk, lelah dan capek memang konskuensi dari pekerjaan dakwah. Tetapi masalahnya apakah kita sudah yakin bahwa seluruh aktivitas hidup kita semuanya sudah terkait dengan agenda dakwah, ataukah semua aktivitas kita adalah aktivitas untuk pemenuhan hasrat duniawi kita, atau mingkin semua itu hanya alasan – alasan yang bisa kita ungkapakan kepada para rijal dakwah yang lain agar kita tidak terlibat dalam proyek dakwah? 

Kita bisa mendapatkan pelajaran tentang masalah ini dari kisah perang tabuk, bagaimana Ka’ab bin Malik tidak turut serta dalam peperangan yang sangat menguras tenaga karena panasnya cuaca pada saat itu tanpa alasan syar’i. Allah dan Rasul-Nya telah memberikan uqubah (hukuman) berupa boikot komunikasi. Uqubah ini dirasa cukup untuk dijadikan illaj (proses perbaikan) bagi seorang kader. Rijal dakwah perlu merenungkan kembali apakah udzur – udzur kita selama ini karena aktivitas dakwah yang lain, ataukah hanya sekedar alasan – alasan yang mungkin bisa dihadirkan secara rasional kepada setiap orang yang mendengarkan, sehingga yang mendengar bisa memberikan permakluman terhadap ketidak hadirannya dalam agenda dakwah. Dan kemungkinannya, semakin lama usia tarbawy seseorang semakin bisa dan mudah ia menyampaikan alasan – alasan kepada obyek dakwah. 

Amir bin Jamuh ra, sangat ingin ikut dalam peperangan walaupun kakinya cacat dan mendapat larangan dari anak – anaknya dalam berjihad, tetapi ia tidak mau mengambil rukhshah yang telah diberikan, ia telah memilih berada dalam komunitas orang – orang terpilih di jalan Allah. Bagaiamana dengan kita? Kesiapan untuk komitmen di jalan dakwah merupakan salah satu sifat kader dakwah yang penting. Karena tanpa komitmen perjuangan dakwah tidak akan pernah eksis, dan tujuan – tujuannya tidak akan pernah tercapai. Rijal dakwah akan mampu memiliki kemampuan memikul beban dan amanah ketika telah memiliki lima indikator di atas. Sudahkah kita menakar komitmen dakwah kita? Semoga Allah senantiasa memberikan kekuatan dan keistiqomahan pada setiap langkah dakwah kita. Wallahu a’lam. 

*) Ketua Deputy Pelajar dan Mahasiswa Jatim

Advertisements

Read Full Post »