Feeds:
Posts
Comments

Archive for May, 2007

Surat Cinta dari Bunda *

Awie’ 240507

Terbayang satu wajah…
Penuh cinta…
Penuh Kasih…
Terbayang satu wajah…
Penuh dengan Kedamaian…
Oh…Ibu…

Lirik Satu Rindu yang dibawakan oleh Opick dalam albumnya Semesta Bertasbih, sempat menjadi hits di blantika musik Indonesia. Bahkan beberapa komunitas pecinta musik religi menjadikan lagu ini sebaga Nada Sambung Pribadi (NSP), maupun back tones.

Sebuah lirik yang menurut saya mengandung berjuta kekuatan yang dalam, di saat kita telah jauh dari orang yang begitu tulus memberikan kekuatan cintanya kepada kita. Tanpa kita sadari, sekarang kita sudah beranjak remaja dan dewasa, menjadi mahasiswa, bekerja, menikah, berkeluarga dan sebagian mungkin telah menjadi orang – orang besar dan terpandang di negeri ini. Dan semua perjalanan kehidupan itu kita dapatkan melalui asupan kasih sayang, cinta dan do’a dari seorang Ibu.

Namun ketika ia menginginkan untuk menikmati hari tuanya, tidak ada hiburan yang menemani hari-harinya. Hanya beberapa aktivitas kecil rumahan serta beberapa tetangga seusia yang mampu memberikan ketenangan jiwa.

Ya, kini anak-anaknya sudah memiliki kesibukan luar biasa, pertemuanpun hanya dilalui melalui telepon maupun sms, kebutuhan-kebutuhan hidup orang tua hanya dikirimkan melalui paket kilat khusus kepadanya.

Sahabat, seorang Ibu mencoba untuk mengungkapkan perasaan cintanya kepada anaknya melalui sepucuk surat. Begini bunyi surat tersebut :

Assalamu’alaikum warohmatullaahi wabarokaatuh

Bagaimana kabarmu sayang…? Bunda harap ananda selalu dalam lindungan Allah. Bunda terpaksa menulis surat ini… karena rasa kangen di dada Bunda ini rasanya sudah tak tertahankan lagi sayang.

Bunda minta maaf …kalau kedatangan surat Bunda ini mengganggu ananda. Maafkan Bunda kalau surat ini membuat ananda malu dengan teman-teman. Sungguh…tidak ada niat Bunda seperti itu….hanya untuk melepas kangen Bunda sama ananda.

Sayang….ingin rasanya Bunda menjengukmu ke sana. Wajah ananda selalu muncul di mimpi Bunda. Tapi niat Bunda itu selalu Bunda kubur dalam-dalam. Hanya satu alasan Bunda sayang…. Bunda ingin anak Bunda bisa mandiri …..Bunda ingin anak Bunda bisa merenungi kesendirian tanpa kehadiran Bunda disamping ananda.

Anakku yang Bunda sayangi…….Bunda bangga dengan ananda. Di saat anak-anak yang lain mengisi hari-hari Ramadhan-nya dengan sahur dan berbuka bersama keluarga, …anak Bunda justru belajar agama di tempat yang jauh dari Bunda. Sungguh senaaaa…ng sekali hati Bunda ini. Bunda harap acara ini bisa mendorong ananda menjadi anak yang sholeh …….sebagaimana yang Bunda harapkan ketika Bunda berjuang dengan susah payah melahirkan ananda.

Ketika wajah lucu ananda yang mungil baru muncul di dunia ini, hanya satu doa Bunda saat itu… “Duhai Allah… Engkaulah yang menggenggam takdir anakku ini. Aku mohon ya Allah jadikan anak yang ada dihadapanku sebagai anak yang sholeh…. Jadikanlah ia anak yang bisa membahagikanku kelak dihadapan-Mu ya Allah…. Jadikanlah ia anak yang dapat membuatku bangga kelak di hadapan-Mu ya Allah. Pertemukan kami kelak di surgamu ya Allah . Jangan Engkau pisahkan kami ya Allah. Jangan Kau biarkan aku memasuki surga-Mu tanpa anak ini disampingku”. Sampai sekarang Bunda selalu mengulang-ulang doa Bunda itu terlebih Bunda lakukan di sepertiga malam, sebagaimana pesanmu kepada Bunda agar tidak lupa untuk mendoakanmu melalui sholat malam.

Bunda sangat berharap doa Bunda itu menjadi kenyataan. Dan sekarang Bunda mulai yakin bahwa anak Bunda adalah anak yang shaleh. Sungguh bahagiaaaa ..sekali hati Bunda ini.

Anak-ku yang sholeh…..Bunda tidak tahu berapa lagi Bunda diberi kepanjangan umur oleh Allah. Bunda merasa Bunda sudah tua. Bunda merasa malikat maut tidak lama lagi akan datang menjemput Bunda. Mungkin surat ini surat terakhir Bunda untuk ananda. Mungkin ketika ananda pulang, Bunda sudah tidak ada lagi di rumah. Maafkan Bunda ya sayang….kalau selama ini Bunda banyak salah sama ananda.

Maafkan Bunda kalau Bunda sering marah dengan ananda. Menyuruh ananda mengaji, belajar, puasa,sholat yang mungkin ananda merasa tidak suka. Jangan dendam sama Bunda ya sayang. Bantu Bunda dengan doa-doamu ya sayang. Hanya doa yang Bunda harapkan dari ananda. Hanya doa ananda, amal jariyah dan kerja dakwah Bunda selama ini yang dapat meringankan beban Bunda di hadapan Allah.

Ananda tersayang….Bunda titip… rawat Ayah dengan baik ya sayang. Sayangi beliau sebagaimana ananda menyayangi Bunda selama ini. Ayah sudah banting tulang supaya ananda bisa sekolah, kuliah, bekerja dan berkeluarga seperti teman-teman yang lain. Buat lah Ayah bahagia dengan keshalehan dan budi pekerti yang baik. Jangan sakiti hatinya sedikitpun ya sayang.

Wassalamu’alaikum wrohmatullaahi wabarakatuh
Peluk hangat dan cium sayang,

Dari Bundamu

Sahabat, ingatkah engkau, ketika ibumu rela tidur tanpa selimut demi melihatmu, tidur nyenyak dengan dua selimut membalut tubuhmu ..? Ingatkah engkau ketika jemari ibu mengusap lembut kepalamu?, dan ingatkah engkau ketika air mata menetes dari mata ibumu ketika ia melihatmu terbaring sakit?

Simpanlah sejenak kesibukan-kesibukan duniawi yang selalu membuatmu lupa untuk pulang. Segeralah jenguk ibumu yang berdiri menantimu di depan pintu bahkan sampai malampun kian larut.

Jangan biarkan engkau kehilangan saat-saat yang akan kau rindukan di masa datang. ketika ibu telah tiada, tak ada lagi yang berdiri di depan pintu menyambut kita, tak ada lagi senyuman indah … tanda bahagia.

Yang ada hanyalah kamar yang kosong tiada penghuninya, yang ada hanyalah baju yang digantung di lemari kamarnya.

Tak ada lagi yang menyiapkan sarapan pagi untukmu makan, tak ada lagi yang rela merawatmu sampai larut malam ketika engkau sakit…Tak ada lagi dan tak akan ada lagi yang meneteskan air mata mendo’akanmu disetiap hembusan nafasnya.

Kawan berdo’alah untuk kesehatannya dan rasakanlah pelukan cinta dan kasih sayangnya jangan biarkan engkau menyesal di masa datang kembalilah pada ibu yang selalu menyayangimu .. Kenanglah semua – cinta dan kasih sayangnya …

– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –
* Tulisan ini saya persembahkan secara spesial kepada Ibu, Mertua dan Almarhum Bapak atas asupan do’a dan kasih sayang yang telah diberikan, dan mohon maaf bila Ananda belum bisa membahagiakanmu sampai hari ini.

Advertisements

Read Full Post »

BERGURU KEPADA KUPU – KUPU

* Awie’ 150507 

 ”Dek..itu lihat dek, kupu-kupunya cantik sekali, ayo kita kejar yuk….”, ”Eh…kak coba lihat itu yang diranting pohon ada kepompongnya, kepompong itu telurnya kupu-kupu ya kak…”, begitulah dialog dua gadis kecil pada sebuah taman kota. 

”Bukan…kepompong itu bukan telurnya kupu, tapi kata ummi kepompong itu proses taubatnya seekor ulat, yang setelah bertaubat Allah menjadikan dia menjadi makhluk yang indah bernama kupu-kupu,” jelas sang kakak.   

”Ulat akan menjadi kupu-kupu ketika berada dalam kepompong, dan nanti kupu-kupu kecil akan keluar melalui lubang kecil pada kepompong itu, sebagaimana anak ayam keluar dari telurnya Dek..,” sang kakak mencoba meyakinkan. 

Sahabat, mungkin di antara kita tidak banyak yang tahu bahwa kepompong yang menjerat, maupun perjuangan yang dibutuhkan oleh kupu-kupu untuk dapat lolos melewati lubang kecil, adalah cara ALLAH untuk mendorong cairan tubuh dari kupu-kupu kesayapnya, agar kuat dan siap untuk terbang sewaktu-waktu setelah bebas dari kepompongnya nanti.  

Perjuangan mutlak dibutuhkan dalam  menjalani hidup kita ini. Apabila ALLAH membolehkan kita hidup tanpa hambatan, itu hanya akan membuat kita lemah. Kita tidak akan sekuat ini. Tidak pernah bisa se sukses ini. Tidak bisa sebahagia kini.  

Dan kupu-kupu telah memberikan pelajaran kehidupan kepada kita. 

Kita memohon diberi Kekuatan…, dan ALLAH memberikan Kesulitan agar membuat kita Kuat… 

Kita memohon agar menjadi Bijaksana…, dan ALLAH memberi kita Masalah untuk diselesaikan… 

Kita  memohon Kekayaan…, dan ALLAH memberi kita Bakat, Waktu, Kesehatan dan Peluang .

 Kita memohon Keberanian…, dan ALLAH memberikan kita hambatan untuk dilewati. 

Kita memohon Rasa Cinta…, dan ALLAH memberikan orang orang bermasalah untuk dibantu.  

Kita memohon Kelebihan…, dan ALLAH memberi kita jalan untuk menemukannya. 

 “Kita tidak menerima apapun yang kita minta.., akan tetapi kita menerima semua yang kita butuhkan “.

Sahabat,  hidup ini penuh dengan pesona. Pesona yang membuat jiwa semakin bersahaja, pesona yang mengasah ketajaman mata hati, dan pesona yang memberi energi kehidupan untuk melewati segala rintangan. 

 Masih banyak yang bisa kita lakukan dan berikan untuk sesama, janganlah bersedih dan larut dalam kedukaan, hadapi masalah dengan senyuman, karena sesungguhnya setiap persoalan ibarat tamu yang hadir di rumah kita, ia tidak akan pernah lama tinggal, persoalan akan segera pergi dan  berganti dengan kemenangan.  

Tetap semangat dan tataplah hari esok yang menjanjikan selaksa harapan. Wallaahu a’lam bis showab. 

Qs Ali Imran : 139.  Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling Tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. 

Qs. Ali Imran : 191. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

 – – – – – – – – – – – – – – – –

* Terimakasih kepada semua rekan di Konsorsium Pendidikan Islam (KPI) yang telah memberikan banyak inspirasi kepada saya melalui materi-materi yang diberikan. 

Read Full Post »

Manusia Pilihan Langit

MANUSIA PILIHAN LANGIT *

Awie’ 110507

Ramadhan kala itu benar – benar memberikan kenangan yang tak terlupakan bagi kami. Jum’at, 24 Nopember 2004, sebagaimana ramadhan sebelumnya, kami tetap melaksanakan tugas rutin sebagai Amil Zakat di sebuah Lembaga Amil Zakat Nasional di Surabaya.

Salah satu karyawan senior di bagian marketing nampak semangat di hari itu. Seperti biasa tawa candanya senantiasa mengiringi aktivitasnya, tak ketinggalan nasehat-nasehat ringan pada rekan-rekan seperjuangan senantiasa ia berikan.

Pagi menjelang siang telepon kantor berdering, ada seorang donatur yang berharap dana zakatnya bisa diambil, karena merasa hal ini merupakan tugasnya, tanpa menunggu waktu, beliaupun berangkat untuk mengambilnya.

Suasana di luar kantor yang begitu panas tidak membuat semangatnya redup. Walaupun berpuasa, ia tunaikan tugasnya dengan sepenuh jiwa. Sekembali dari tempat donatur, beliau langsung menuju ruang media untuk sekedar mengurai kepenatan dan merebahkan tubuh sejenak sambil menunggu saat sholat Jum’at tiba.

Tak lama kemudian adzan tanda waktu sholat Jum’at pun berkumandang, saya dan sebagian teman bergegas menuju masjid di kantor sebelah, namun telepon kantor kembali berdering, mendengar diskusinya dengan bagian front office sepertinya ada seorang donatur yang meminta konsultasi masalah zakat, ”Assalamu’alaikum, dengan Ainur ada yang bisa dibantu..?” begitu biasanya ia menerima telepon. Luar biasa memang kawan saya yang satu ini, dalam situasi apapun senyumnya selalu beliau tunjukkan sebagai sebuah tanda penghargaan pada orang yang diajak bicara.

Selesai memberikan konsultasi, beliau segera berangkat menuju masjid dengan seorang kawan. Ketika menyeberang jalan, tiba-tiba dari arah selatan kantor ada sebuah mobil yang berjalan oleng dan melaju sangat kencang. Melihat situasi seperti itu beliau mencoba untuk menepi dengan menempelkan tubuhnya pada sebuah mobil yang sedang terparkir di pinggir jalan.

Di luar dugaan mobil itu meluncur dengan cepat ke arahnya dan …, ”Braak..!!”, badan mobil pun segera menyambar tubuhnya, mobil sempat oleng karena menabrak salah satu mobil yang terparkir, dan tubuh yang sudah tak berdaya itu sempat terseret masuk berada di bawah kolong mobil si penabrak.

Suasana cukup tegang ketika beberapa tukang becak dan tukang parkir menggebrak-gebrak mobil tersebut untuk meminta pengemudinya keluar. Setelah diinterogasi ternyata pengemudinya seorang dokter muda yang mengantuk setelah dua hari melakukan tugas jaga di rumah sakit.

Atas inisiatif beberapa orang, tubuhnya yang mulai kritis segera dilarikan ke rumah sakit. Namun Sang pemilik jiwa memiliki rencana lain, beliau meninggalkan kami untuk selama-lamanya saat dalam perjalanan. Perasaan haru dan sedih tak bisa kami bendung saat itu, kami telah kehilanggan salah satu pejuang terbaik yang pernah ada di antara kami.

Selamat jalan Mas…, sampeyan telah menunaikan kewajiban sebagai seorang hamba; puasa, mengambil zakat, dan melayani konsultasi sudah sampeyan tunaikan dengan paripurna, walaupun sampeyan belum sempat menunaikan sholat Jum’at dan berbuka puasa, Insya Allah pahala sampeyan sudah terukir di langit.

Dan kini Mas Ainur Rofiq biasa kami memanggilnya, sudah menjadi manusia pilihan langit untuk melaksanakan amanahnya sebagai seorang insan, beliau juga sudah menunjukkan kontribusi dan dedikasi terbaiknya kepada dakwah ini.

Ya Rabb, Engkau yang menggenggam rahasia hati setiap hamba, yang memberikan hidayah dan petunjuk kepada setiap manusia pilihan, dan yang berkuasa atas umur-umur setiap insan, ampunkanlah dosanya dan terimalah segala amalnya.

QS. Al Zazalah : 7, Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.

QS. At Taubah : 105. Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, Maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang Telah kamu kerjakan.

– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –
* Tulisan ini saya dedikasikan kepada Kelurga Mas Ainur Rofiq, dan saya ucapkan Jazakumullahi khoiron katsiro atas semuanya, karena dari beliaulah kami semakin mengerti makna kesederhanaan, keikhlasan dan kepedulian.

Read Full Post »

MENTALITAS KELIMPAHRUAHAN *

Awie’ 090507

Bertahan merasakan beratnya beban ternyata hanya menyisakan goresan luka dalam dada, terlebih ketika kita tidak tahu harus berbuat apa dan kepada siapa kita mencoba untuk sekedar berbagi kata.

Banyak di antara kita sering menyalahkan diri sendiri, keluarga, orang lain atau mungkin lingkungan ketika tak kuasa menghadapi kenyataan, serta resiko kehidupan.

Seorang guru di salah satu sekolah Islam di Surabaya merasa tak kuasa untuk mengungkapkan semua keluh kesahnya kepada koleganya, dia merasa kesal ketika ucapan salamnya tidak dihiraukan oleh guru ‘senior’ di sekolah tersebut.

Seorang kawan pernah bertanya kepada saya, “Pak gimana sih ngadepin orang-orang yang gak bisa menghargai waktu, kan nyebelin banget tuch? sementara orangnya pada dasarnya memang sudah biasa menunda-nunda..biasa ngegampangin sesuatu..biasa berpikir orang lain bakal memaklumi kalau saya gak on time…”.

“Kalau seandainya dari dulu saya tahu sifat aslinya, gak mungkin dech aku mau kerja sama ma dia,” gerutu seorang karyawan pada temannya.

Fenomena seperti di atas seringkali kita jumpai sekaligus menjadi pernik-pernik kehidupan.

Sedih, marah, dongkol, kecewa, sakit hati, bahkan sumpah serapah mungkin pernah kita rasakan dan lakukan untuk sekedar menjawab situasi di luar yang benar-benar tidak sesuai dengan harapan kita.

Kondisi mental itulah yang disebut mentalitas kelangkaan, sebuah istilah yang bisa menggambarkan situasi dalam diri.

Saat itu, kita menganggap ada sesuatu yang hilang pada diri kita; harga diri, jati diri, eksistensi dan entah apa namanya ketika orang lain membuat kecewa, sakit hati atau mungkin melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendak kita.

Tapi benarkah kita telah kehilangan itu semua? Lantas kalaulah kita memenuhi hasrat diri untuk sekedar merespon situasi saat itu apakah kita kemudian merasa puas, bangga, atau menang ? (silakan dijawab sendiri ya… :)).

Teringat kisah Rasul ketika melakukan dakwah di komunitas Thaif, begitu bencinya masyarakat pada diri Rasul, caci maki, amarah sampai teror fisik mereka lakukan. Bahkan malaikat langitpun tergerak untuk memberikan hukuman untuk menhancurkan komunitas tersebut.

Rasul tidak memberikan balasan atau hukuman dalam bentuk apapun, dalam keadaan menahan sakit karena luka, dari mulut beliaulah muncul energi kearifan berupa do’a. Do’a serta harapan yang ditujukan kepada pemilik langit agar kelak dari komuntitas tersebut mucul pribadi-pribadi paripurna yang akan menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran dan integritasnya.

Begitulah Rasul melakukan manajemen mental, di saat beliau tidak menemukan sebuah harapan dari orang-orang disekitarnya. Mentalitas kelimpahruahan yang beliau miliki justeru mampu memberikan kekuatan, motivasi, inspirasi, harapan dan pelajaran kehidupan bagi manusia.

Kita bisa melakukan itu semua, suka akan mengganti duka, sedih menjadi gembira, serta kecewa akan menjelma bahagia, ketika mentalitas kelimpahruahan itu kita miliki. Dan dari sinilah berawal kearifan serta kedewasaan bertindak yang akan dimiliki oleh setiap orang.

Akhirnya, tetap semangat untuk melakukan investasi amal, semoga kita bisa menjadi inspirator bagi yang lain…

Wallahu a’lam bis showab.

– – – – – – – – – – – –
* Istilah ini saya temukan dalam sebuah buku dengan judul ’Seven Habits of Highly People’ yang ditulis oleh Steven Covey.

Read Full Post »

MENIKAHI ORANG YANG DICINTAI ATAU MENCINTAI ORANG YANG DINIKAHI ?

Awie’ 090507

Hemm…pertanyaan yang tidak mudah kita jawab, dibenak kita mungkin akan muncul sebuah pertanyaan, ”Apa bedanya sih?”.

Inspirasi ini muncul ketika saya sedang terlibat diskusi hangat dengan sang isteri tercinta. Topik ini muncul ketika dalam forum pengajiannya sedang ada pembahasan mengenai fenomena artis yang kawin cerai.

Seberapa besarkah cinta kepada pasangan, kita butuhkan? Sampai kapan?.

Cinta membuat kita bisa melakukan segala hal, apapun kondisi kita dan di manapun kita berada, dan itulah pengorbanan atas nama cinta.

Cinta terkadang membuat kita buta, memaksa kita untuk meninggalkan norma, pilihan sadar, jati diri, cita-cita sampai keyakinan, demi untuk memenuhi kehendak yang kita cintai. Tetapi kadang cinta juga bisa membuat kita menjadi sebaliknya.

Mencintai orang yang di (me) nikahi, merupakan sebuah pilihan sadar kita untuk memberikan yang terbaik dari apa yang kita miliki, serta menerima semua kekurangan dan kelebihan pasangan kita.

Kita akan menjaga agar api cinta itu tidak pernah redup atau mungkin mati dengan segala upaya, walaupun badai mencoba untuk memadamkannya.

Sementara menikahi orang yang kita cintai memang sudah menjadi sebuah keharusan, namun coba kita renungkan barang sejenak. Terkadang kita mencintainya bukan karena pilihan sadar kita tetapi lebih karena ada perasaan membuncah untuk segera bersanding dan memiliki.

Pada saat itu kita sedang terlena oleh tampilan sesaat, kita tidak pernah berpikir apakah bara api cinta akan tetap abadi selamanya dalam diri ?, yang penting mumpung bara itu masih menyala maka sudah semestinya segera dicarikan tempat di mana api cinta itu akan diletakkan.

Dan ketika tempat itu dirasa sudah tidak sesuai dengan yang diharapkan, bahkan justeru membuat baranya semakin redup maka kita akan buru-buru untuk mencari tempat lain agar api cinta tetap menyala, tanpa mencari sebab apa yang sekiranya membuat api cinta itu menjadi padam.

Ya, api cinta itu sudah berada di tempat lain, dan kita tidak akan pernah mendapatkannya kembali. Sudahkah kita mencintai orang yang kita nikahi ? Wallahu a’lam bis showab.

Qs. Ar Ruum : 21.
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir “.

– – – – – – – – – – – – – – – –
*** teruntuk isteri dan anak-anakku terima kasih untuk semuanya

Read Full Post »

Lilin Harapan

LILIN HARAPAN

Awie’050507

Ada 4 lilin yang menyala,
Sedikit demi sedikit habis meleleh, Suasana begitu sunyi sehingga terdengarlah percakapan mereka.

Yang pertama berkata: “Aku adalah Damai”.
Namun manusia tak mampu menjagaku: maka lebih baik aku mematikan diriku saja!”.Demikianlah sedikit demi sedikit sang lilin padam.

Yang kedua berkata: “ Aku adalah Iman”.
Sayang aku tak berguna lagi. Manusia tak mau mengenalku, Untuk itulah tak ada gunanya aku tetap menyala.”Begitu selesai bicara, tiupan angin memadamkannya.

Dengan sedih giliran Lilin ketiga bicara: “ Aku adalah Cinta”
Tak mampu lagi aku untuk tetap menyala. Manusia tidak lagi memandang dan mengganggapku berguna. Mereka saling membenci, bahkan membenci mereka yang mencintainya, membenci keluarganya.”. Tanpa menunggu waktu lama, maka matilah Lilin ketiga.

Tanpa terduga…

Seorang anak saat itu masuk ke dalam kamar, dan melihat ketiga Lilin telah padam. Karena takut akan kegelapan itu, ia berkata:
“ Ekh apa yang terjadi?! Kalian harus tetap menyala, Aku takut akan kegelapan!” . Lalu ia mengangis tersedu-sedu.

Lalu dengan terharu Lilin keempat berkata:
“Jangan takut, Janganlah menangis, selama aku masih ada dan menyala, kita tetap dapat selalu menyalakan ketiga Lilin lainnya: Akulah “HARAPAN”.

Dengan mata bersinar, sang anak mengambil Lilin Harapan, lalu menyalakan kembali ketiga Lilin lainnya.

Apa yang tidak pernah mati hanyalah HARAPAN yang ada dalam hati kita….
…dan masing-masing kita semoga dapat menjadi alat, seperti sang anak tersebut, yang dalam situasi apapun mampu menghidupkan kembali Iman, Damai, Cinta dengan HARAPAN-nya!!!

Entah darimana dan siapa yang menulis artikel ini, tapi yang jelas telah banyak membukakan mata kita mengenai makna kehidupan. Disaat sebagian kita merasakan bahwa saat ini hidup sudah semakin susah, permasalahan kian berat dan menyesakkan dada.

Namun Allah telah memberikan kita lilin keempat yaitu HARAPAN, kita harus tetap menjaganya agar ia tidak pernah redup maupun mati, dan dengan HARAPAN itu kita masih bisa menikmati arti kehidupan, nikmatnya persahabatan serta memberikan kontribusi maksimal pada dunia.

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. (Qs. 94 : 5 – 6).

Wallahu a’lam bishowab.

Read Full Post »

TIPE – TIPE AKTIVIS DAKWAH KAMPUS

Awie’ 010507

Sebentar…, judul di atas hanyalah salah satu bagian pengamatan perjalanan saja, bukan berdasarkan penelitian yang komprehensif, so tidak perlu diperdebatkan, silakan dibaca sambil melakukan perenungan setelah melakukan perjalanan panjang bersama dakwah ini.

Dakwah Kampus menurut saya telah memberikan banyak inspirasi dalam investasi amal, mulai dari para aktivisnya, dinamika, tantangan dan permasalahannya. Ruang-ruang amal di kampus tersedia cukup banyak, sehingga sayang kalau dilewatkan begitu saja.

Suatu saat dalam sebuah diskusi dengan para Aktivis Dakwah Kampus (ADK), ada pernyataan yang sempat disampaikan, “Masalah kita di kampus, kenapa organisasi gak berjalan, salah satunya disebabkan karena anak-anak gak punya komitmen, mereka pada sibuk sendiri-sendiri Pak”, kata salah satu peserta diskusi.

“Ustad nanti tolong taujihnya bisa diarahkan kepada pemberian semangat para peserta, mumpung yang hadir adalah para penanggung jawab jurusan”, ungkap salah seorang panitia pelatihan Manajemen Dakwah Kampus.

“Waduh susah nih anak, tahu acara penting begini malah pulang kampung, mana gak kasih tahu lagi !” gerutu seorang aktivis.

Ungkapan-ungkapan sebagaimana di atas sering kita jumpai ketika kita berada di lapangan dakwah, dinamika dakwah kampus yang cukup tinggi akan mendapat respon yang berbeda-beda dari para aktivisnya. Ada yang merespon dengan penuh semangat dan harapan, tetapi ada pula yang sebaliknya merasakan kejenuhan atau merasa ada beban berat di pundaknya.

Biasanya untuk memompa semangat ADK saya sampaikan kepada mereka tentang beberapa tipe aktivis dakwah kampus.

KuPu-KuPu (Kuliah Pulang-Kuliah Pulang)

Aktivis tipe ini adalah aktivis yang kurang responsif terhadap agenda-agenda dakwah di kampusnya, ritme aktivitasnya adalah rumah – kampus – rumah.

Makanya ketika ada aktivitas di kampus biasanya aktivis ini senantiasa mengeluarkan seribu jurus untuk menghindar dari amanah, “Afwan akh lagi banyak kerjaan di rumah,” atau “Saya gak bisa ikut ya Mbak, karena di rumah lagi gak ada orang”, dan yang sejenisnya. Tetapi ketika ditanya, “Emang di rumah ngerjakan apa?,” ternyata sang aktivis juga kebingungan untuk menjawabnya.

KuRa-KuRa (Kuliah Rapat – Kuliah Rapat)

Tahu kura-kura kan, yang ke mana – mana selalu bawa rumahnya, tapi kalo ada aktivis tipe ini justeru kondisinya kebalikannya, kesibukannya di kampus terkadang membuatnya lupa akan tugas dan kewajibannya sebagai orang rumahan. Yaa…kewajiban sebagai anak, kakak, adik, tetangga, dan anggota masyarakat yang seringkali terabaikan.

Ritme aktivitasnya adalah kuliah dan rapat (syura’), dari organisasi ke organisasi yang lain, aktivis ini sangat nyaman dengan ’dunianya’, dan memiliki lagu kebangsaan yang judulnya ’syuro – syuro bergembira….”(he..he…kaya lagu perjuangan). ”Mumpung masih muda kita harus berkontribusi,” itulah jawaban andalannya ketika ada pertanyaan mengenai kesibukannya menyerang.

Pertanyaan-pertanyaan yang sering dikemukakan oleh orang-orang disekitarnya adalah, ”Anda ini sebenarnya mengerjakan apa saja sih di kampus? kok kelihatannya sibuk sekali ?”, ”Pagi berangkat, pulang petang, sekarang mau berangkat lagi..”, ”Ngurusin apa saja sih Mbak kok gak pulang-pulang…”, atau yang lebih menyedihkan, ”Nak…, kamu sudah lupa kalau punya orang tua ya..kok tidak pernah pulang?”. Sadar gak ya…?

KuTiLang (Kuliah Tidur Hilang)

Kalau yang ini.. dah parah abis pokoknya, dari tipenya aja dah ketauan apa kerjaannya di kampus. Ya, betul ritme aktivitasnya adalah kuliah, kalau di kelas bawaannya tidur atau ngantukan, serta sering menghilang tanpa sebab ketika ada agenda dakwah.

Tiga tipe di atas memang cukup berat buat nyarikan obatnya, butuh data primer, cara yang elegan, serta jam terbang yang tinggi dalam penangannya. Ibarat dokter, kemampuan menganalisa dan mendiagnosa akan berbanding lurus dengan kesembuhan penyakit si pasien.

Yang sering terjadi adalah kita sering menghakimi tanpa data, atau memvonis karena kesan, sehingga aktivis mengalami ’iritasi’ hati. Rentan terhadap penyakit, tidak percaya diri. ’mutungan’, tidak bergairah terhadap agenda dakwah, atau malah kalau salah obat bisa-bisa sang aktivis melakukan insilakh (keluar dari orbit dakwah) Naudzubillah.

Tulisan di atas hanya mencoba melihat realita lapangan, tapi saya yakin masih banyak pejuang-pejuang dakwah yang tetap memiliki semangat, komitmen, kesungguhan dan pengorbanan agar dakwah ini tetap eksis hingga mencapai kemenangan.

Tapi ada gak ya kader atau aktivis seperti tiga tipe di atas? Wallahu a’lam bis showab.

Read Full Post »

Older Posts »