Feeds:
Posts
Comments

TIPE – TIPE AKTIVIS DAKWAH KAMPUS

Awie’ 010507

Sebentar…, judul di atas hanyalah salah satu bagian pengamatan perjalanan saja, bukan berdasarkan penelitian yang komprehensif, so tidak perlu diperdebatkan, silakan dibaca sambil melakukan perenungan setelah melakukan perjalanan panjang bersama dakwah ini.

Dakwah Kampus menurut saya telah memberikan banyak inspirasi dalam investasi amal, mulai dari para aktivisnya, dinamika, tantangan dan permasalahannya. Ruang-ruang amal di kampus tersedia cukup banyak, sehingga sayang kalau dilewatkan begitu saja.

Suatu saat dalam sebuah diskusi dengan para Aktivis Dakwah Kampus (ADK), ada pernyataan yang sempat disampaikan, “Masalah kita di kampus, kenapa organisasi gak berjalan, salah satunya disebabkan karena anak-anak gak punya komitmen, mereka pada sibuk sendiri-sendiri Pak”, kata salah satu peserta diskusi.

“Ustad nanti tolong taujihnya bisa diarahkan kepada pemberian semangat para peserta, mumpung yang hadir adalah para penanggung jawab jurusan”, ungkap salah seorang panitia pelatihan Manajemen Dakwah Kampus.

“Waduh susah nih anak, tahu acara penting begini malah pulang kampung, mana gak kasih tahu lagi !” gerutu seorang aktivis.

Ungkapan-ungkapan sebagaimana di atas sering kita jumpai ketika kita berada di lapangan dakwah, dinamika dakwah kampus yang cukup tinggi akan mendapat respon yang berbeda-beda dari para aktivisnya. Ada yang merespon dengan penuh semangat dan harapan, tetapi ada pula yang sebaliknya merasakan kejenuhan atau merasa ada beban berat di pundaknya.

Biasanya untuk memompa semangat ADK saya sampaikan kepada mereka tentang beberapa tipe aktivis dakwah kampus.

KuPu-KuPu (Kuliah Pulang-Kuliah Pulang)

Aktivis tipe ini adalah aktivis yang kurang responsif terhadap agenda-agenda dakwah di kampusnya, ritme aktivitasnya adalah rumah – kampus – rumah.

Makanya ketika ada aktivitas di kampus biasanya aktivis ini senantiasa mengeluarkan seribu jurus untuk menghindar dari amanah, “Afwan akh lagi banyak kerjaan di rumah,” atau “Saya gak bisa ikut ya Mbak, karena di rumah lagi gak ada orang”, dan yang sejenisnya. Tetapi ketika ditanya, “Emang di rumah ngerjakan apa?,” ternyata sang aktivis juga kebingungan untuk menjawabnya.

KuRa-KuRa (Kuliah Rapat – Kuliah Rapat)

Tahu kura-kura kan, yang ke mana – mana selalu bawa rumahnya, tapi kalo ada aktivis tipe ini justeru kondisinya kebalikannya, kesibukannya di kampus terkadang membuatnya lupa akan tugas dan kewajibannya sebagai orang rumahan. Yaa…kewajiban sebagai anak, kakak, adik, tetangga, dan anggota masyarakat yang seringkali terabaikan.

Ritme aktivitasnya adalah kuliah dan rapat (syura’), dari organisasi ke organisasi yang lain, aktivis ini sangat nyaman dengan ’dunianya’, dan memiliki lagu kebangsaan yang judulnya ’syuro – syuro bergembira….”(he..he…kaya lagu perjuangan). ”Mumpung masih muda kita harus berkontribusi,” itulah jawaban andalannya ketika ada pertanyaan mengenai kesibukannya menyerang.

Pertanyaan-pertanyaan yang sering dikemukakan oleh orang-orang disekitarnya adalah, ”Anda ini sebenarnya mengerjakan apa saja sih di kampus? kok kelihatannya sibuk sekali ?”, ”Pagi berangkat, pulang petang, sekarang mau berangkat lagi..”, ”Ngurusin apa saja sih Mbak kok gak pulang-pulang…”, atau yang lebih menyedihkan, ”Nak…, kamu sudah lupa kalau punya orang tua ya..kok tidak pernah pulang?”. Sadar gak ya…?

KuTiLang (Kuliah Tidur Hilang)

Kalau yang ini.. dah parah abis pokoknya, dari tipenya aja dah ketauan apa kerjaannya di kampus. Ya, betul ritme aktivitasnya adalah kuliah, kalau di kelas bawaannya tidur atau ngantukan, serta sering menghilang tanpa sebab ketika ada agenda dakwah.

Tiga tipe di atas memang cukup berat buat nyarikan obatnya, butuh data primer, cara yang elegan, serta jam terbang yang tinggi dalam penangannya. Ibarat dokter, kemampuan menganalisa dan mendiagnosa akan berbanding lurus dengan kesembuhan penyakit si pasien.

Yang sering terjadi adalah kita sering menghakimi tanpa data, atau memvonis karena kesan, sehingga aktivis mengalami ’iritasi’ hati. Rentan terhadap penyakit, tidak percaya diri. ’mutungan’, tidak bergairah terhadap agenda dakwah, atau malah kalau salah obat bisa-bisa sang aktivis melakukan insilakh (keluar dari orbit dakwah) Naudzubillah.

Tulisan di atas hanya mencoba melihat realita lapangan, tapi saya yakin masih banyak pejuang-pejuang dakwah yang tetap memiliki semangat, komitmen, kesungguhan dan pengorbanan agar dakwah ini tetap eksis hingga mencapai kemenangan.

Tapi ada gak ya kader atau aktivis seperti tiga tipe di atas? Wallahu a’lam bis showab.

Advertisements

KESEJATIAN DIRI

KESEJATIAN DIRI

Awie, 030507

Pengalaman saya ketika memberikan pelatihan motivasi, saya pasti menanyakan kepada peserta,” Siapakah di antara anda yang masih merasa tidak percaya diri?”. Dan di luar dugaan mereka yang saya angap sebagai orang-orang besar itu ternyata tidak sedikit di antaranya yang mengangkat tangan sebagai bentuk jawaban dari pertanyaan saya.

Melihat kondisi tersebut saya teringat ketika suatu saat saya pernah membaca sebuah artikel dengan judul sebagaimana di atas, begini ceritanya:

Dikisahkan ada seorang pemuda yang sedang berjalan menelusuri hutan, di sana ia menemukan sebuah telur seekor burung Rajawali, saat itu juga dia teringat bahwa dirumahnya ada seekor ayam piaraannya yang sedang mengerami telur-telurnya. Tanpa berpikir panjang bergegaslah ia membawa telur itu ke rumah dan meletakkannya di antara telur-telur ayam yang sedang dierami induknya. Beberapa hari kemudian menetaslah semua telur, termasuk juga telur burung rajawali.

Suatu hari sang induk ayam mencoba mengajak anak-anaknya untuk mencari makan, dan terjadilah dialog yang yang sangat luar biasa;

”Anak-anakku hari ini mama ingin mengajari kalian tentang arti kehidupan, dan hari ini kita akan makan dengan makanan yang bergisi agar tubuh kalian tumbuh dengan sehat, oleh karenanya mari ikuti mama, dan kita akan melihat dunia” jelas sang induk kepada anak-anaknya.

Anak-anak ayam beserta rajawali kecil pun mengikuti ke mana sang induk pergi. Sesampainya di hamparan yang luas sang induk mengajari bagaimana cara mencari makanan yang memiliki kadar gizi yang tinggi. Ketika mereka asyik dengan aktivitasnya masing-masing, rajawali kecil mendongakkan kepalanya ke langit dan ia melihat ada sesosok makhluk yang terbang menerjang awan.

Rajawali kecil bertanya kepada induk ayam,”Mama siapakah gerangan yang berada di angkasa sana bisakah aku seperti dia?”

”Anakku sayang…, apa yang engkau lihat di atas, sesunguhnya dia adalah makhluk langit…, mama, engkau serta saudara-saudaramu adalah makhluk bumi dan ingat pesan mama jangan pernah berharap kita sebagaimana dia.., sudahlah nak teruskan makanmu,” kata sang induk mencoba menjelaskan.

Jawaban sang induk masih menggelayuti pikirannya, suatu saat ia berusaha menanyakan hal yang sama, tetapi ia tetap mendapat jawaban yang sama dari sang mama.

Waktu terus berlalu, rajawali kecil telah menjadi remaja, dan dewasa. Namun sekali lagi tidak ada diantara saudara-saudaranya yang mampu memberikan jawaban yang melegakan, hingga akhirnya waktu menutup usianya dan ia tidak pernah bisa berharap melakukan apa yang telah dilakukan oleh makhluk langit, terbang dengan gagah perkasa menembus bats ruang dan waktu.

Ya, sang rajawali telah kehilangan kesejatian dirinya. Kisah ini sungguh luar biasa, saya mencoba untuk merenunginya beberapa saat dan mencoba melihat kenyataan di sekitar.

Betapa banyak di antara kita yang merasa canggung untuk bertemu orang lain hanya karena masalah jerawat dan berat badan. Betapa banyak diantara kita yang tidak berani tampil di depan publik karena ia merasa kecil, tidak memiliki ilmu, banyak kekurangan, takut salah, tidak punya pengalaman atau ia menganggap orang lain terlalu sempurna.

Sahabat, kita tidak perlu merasa rendah diri, gagal, maupun hina. Lihatlah dunia dengan gembira, rasakan hembusan semilir angin di pagi hari yang memberikan kesejukan pada wajah kita, atau mungkin minumlah seteguk air yang engkau ambil dari sumbernya yang akan memberikan kejernihan pada jiwa.

Kita masih memiliki iman, komitmen, semangat, kejujuran, tanggung jawab, empati, keberanian, kedermawanan, dan itulah kesuksesan, potensi, serta kesejatian diri yang kita miliki. Mari buka hati , kita himpun kekuatan, berikan yang terbaik dari semua yang telah kita miliki.

Qs. 95 : 4. Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya .

Wallahu a’lam bishowab.

BERAWAL DARI SEBUAH ANGGAPAN

Awie’020507

Memberikan sebuah anggapan apalagi anggapan yang baik kepada orang lain tentunya merupakan suatu hal yang bisa menyejukkan jiwa, baik yang memberi apalagi yang diberi. Pesan jiwa ini seakan mampu memberikan energi baru pada setiap orang yang mendapatkannya. Bukankah dalam agama kita juga dianjurkan berhusnuzhon (memiliki anggapan baik) kepada orang lain?

Seorang suami bisa tinggal serumah dengan penuh canda dengan adik ipar perempuannya karena ia menganggap karena sang adik ini memiliki sifat dan karakter persis dengan kakaknya bahkan banyak kelebihan yang ia miliki dibanding dengan sang isteri.

Seorang mahasiswi bisa berjam-jam berdiskusi dengan sang dosen mengenai berbagai hal karena ia menganggap bahwa sang dosen orangnya sangat berwawasan, hangat, penyabar dan kebapakan.

Seorang pimpinan sangat sering memberikan apresiasi mulai dari pujian sampai barang kepada sekretaris kantornya karena ia menganggap sang sekretaris selain cantik, rapi, cekatan juga memiliki kemampuan berkomunikasi serta intelektual yang bisa diandalkan.

Anggapan baik jika kita berikan secara tulus tanpa pamrih tentunya akan berbuah pada kebaikan. Lihat saja ketika sebuah keluarga mampu melakukan komunikasi dengan hati kepada isteri, anak dan anggota keluarga yang lain akan begitu indah suasana dalam rumah, bahkan suasana seperti inilah yang dirindukan bagi setiap orang tatkala sebagian yang lain sedang berjuang untuk mempertahankan biduk rumah tanganya.

Seorang mahasiswi akan memiliki prestasi prima ketika sang dosen mampu memberikan support, arahan dan bimbingan hingga sang mahasiswi menjadi seorang pembelajar cepat, atau sebuah perusahaan akan menjadi besar dan produktif ketika dalam perusahaan itu ada iklim saling menghargai, kerjasama dan mengapresiasi mulai dari pimpinan, sekretaris, sampai pada office boy perusahaan.

Namun, ketika semua itu dilakukan dengan pamrih, tendensi – tendensi tertentu bahkan nafsu yang memunculkan rasa bangga, percaya diri hingga perasaan cinta yang membuncah pada salah satu pihak, maka semua akan berujung pada fitnah dan petaka.

Seseorang akan kehilangan kepercayaan, wibawa, harga diri dan profesionalisme begitu saja dihadapan orang lain, dan semua itu terjadi serta berawal dari sebuah anggapan. Wallahu a’lam bishowab.

MASIH PERLUKAH ROMANTISME ITU BAGI AKTIVIS HAROKAH?

Agung Wicaksono (Awie’)

Beberapa waktu yang lalu, saya dikejutkan dengan sebuah kabar meninggalnya seorang aktivis dakwah dikampusnya. Lebih terkejut lagi ketika sebuah harian sore yang terbit di Surabaya memberitakan bahwa sang aktivis meninggal karena bunuh diri, dan masih menurut media tersebut sang aktivis meninggal dikarenakan cinta tak berbalas. Bahkan yang lebih tragis media tersebut mengabarkan bahwa sang aktivis terlibat cinta segitiga.

Kejadian tersebut terjadi sehari sebelumnya ketika salah seorang aktifvis dakwah kampus meminta kepada saya untuk mencarikan seorang Ustad guna memberikan taujih bagi para ADK (Aktivis Dakwah Kampus), yang sekarang ditengarai terkena VMJ (Virus Merah Jambu), sebuah virus di mana para aktivisnya terlibat hubungan ’percintaan’ dengan sesama aktifis harokah.

Suatu saat ketika sedang rapat di kantor, saya menerima sebuah sms dari seseorang, sms itu berbunyi, ”Apakah ini no hp Ustad Awie?”, setelah saya menjawab dan membenarkan pertanyaan sang pengirim sms, diapun memperkenalkan dirinya bahwa dia pernah menjadi murid salah satu kajian keislaman yang saya bina. Intinya dia ingin bertemu dan berkonsultasi terhadap permasalahan yang sedang dialaminya kepada saya melalui handphone. Keesokan harinya dia menunaikan janjinya untuk menghubungi saya via handphone. Setelah menanyakan kabar saya dan keluarga secara singkat akhirnya dia menceritakan permasalahan terkait rencana pernikahannya. Dia mengenal seorang akhwat yang melalui chatting, hubungang pun berlanjut sampai proses khitbah dan penentuan hari pernikahan.

Ketika tiba waktunya untuk memesan undangan, dia mulai gundah gulana, kenapa hatinya semakin tidak yakin untuk melanjutkan proses pernikahannya?, tetapi disisi lain dia tidak bisa menolak atau menghentikan proses yang sudah berjalan itu dari waktu ke waktu.

Saya kemudian bertanya, ”Apa yang menyebabkan antum tidak melanjutkan proses antum Akh?”, dia pun menjawab,”Ya saya tidak sreg, dan sepertinya saya tidak menyukainya,” jawabnya singkat. Saya mencoba untuk memutar otak saya kira-kira apa yang menjadi penyebab sehingga dia berani mengambil resiko besar itu. Kemudian saya ajukan sebuah pernyataan, ”Baiklah Akhi, saya mau sharing dengan antum, saya akan menyampaikan penyembab seorang lelaki tidak menyukai wanita dari kacamata umum” (mohon maaf jika pandangan ini keliru).

”Laki-laki tidak menyukai wanita biasanya dikarenakan 4 hal, pertama karena fisik, kedua karena karakter pihak wanitanya, ketiga karena faktor keluarga, dan keempat karena the other woman,” jawabku.

Dan di luar dugaan dia menyampaikan faktor fisik dan the other womanlah yang menyebabkan dia semakin tidak berminat melanjutkan prosesnya.

Ikhwah fillah, begitulah fenomena VMJ yang ada disekitar kita, nyata dan setiap hari kita bisa menemukannya. Ditambah lagi diera keterbukaan seperti sekarang, interaksi ikhwan dan akhwat sangat dimungkinkan untuk berada dalam satu wilayah kerja, belum lagi kecanggihan teknologi yang sangat mendukung dalam pola interaksi komunikasi. Mulai dari handphone dengan fasilitas video call, sms atau emailnya, internet dengan fasilitas chattingnya, atau sebuah situs yang memfasilitasi para netter agar bisa berinteraksi dan memiliki komunitas sambil menampilkan foto dirnya dalam berbagai bentuk gaya. Semuanya tersedia dihadapan kita.

Belum lagi tema-tema romantis seputar pernikahan, mulai dari ’Indahnya pernikahan’, ’antara kuliah dan nikah’, ’nikah siapa takut?’, dan lain sebagainya yang sering disuguhkan ditengah-tengah kesibukan para aktivis dalam menjalankan amanah-amanah dakwahnya.

Sampai-sampai pernah seorang aktivis menyampaikan kepada saya bagaimana VMJ menyerang korbannya. Kebetulan virus ini menyebar melaui media sms, sang aktivis yang kebetulan ikhwan mula-mula mengirim sms kepada seorang akhwat rekan sesama aktivis untuk sekedar mengingatkan untuk qiyamul lail, setelah cukup mujarab pengaruh racunnya virus inipun menyerang dengan pola yang sama, yaitu dengan dikirimkannya pesan berikutnya melalui sms untuk sekedar mengucapkan selamat ulang tahun pada sang akhwat, diteruskan lagi dengan sms kiriman dalam bentuk salam jihad dan yang paling dahsyat adalah pengiriman sms salam sayang kepada akhwat tersebut.

Tidak ada udang dibalik batu kata pepatah, dan nasipun sudah terlanjur menjadi bubur, dan kasus-kasus seperti di atas hanyalah fenomena gunung es yang pernah kita dapati, dan sesungguhnya kasus-kasus serupa di lapangan sudah banyak yang menjangkiti para aktivis oleh karenanya masihkah romantisme sesaat itu bagi aktivis harokah?

Ya, aktivis kita mulai terjangkiti romantisme-romantisme sesaat, ada keinginan besar bagi sang aktivis untuk segera bisa bersanding dengan pendamping pilihan, atau keinginan untuk segera mewujudkan pernikahan haroki, keinginan untuk membina rumah tangga dakwah, dan segera membina jundi-jundi robbani, tapi justru virus itulah yang menghempaskan sebagian aktivis kita dari kebersihan niat, virus itulah yang menjadikan aktivis kita tidak memiliki prioritas amal, rapuh terhadap beratnya amanah di medan perjuangan, kehilangan orientasi gerakan, bahkan sampi menarik diri dari orbit dakwah. Naudzubillah.

Semua dan siapa saja akan memiliki peluang yang sama untuk terjangkiti virus yang sama, apalagi bagi aktivis harokah yang diberi amanah untuk beraktivitas di ruang publik ujian, cobaan dan godaan akan semakin berat, namun sekali lagi dengan pemahaman yang benar, ilmu, amal jama’i, dan do’a kita semua.

Wahai aktivis masih panjang perjuangan kita, masih banyak amanah dan beban dakwah yang menunggu, teap semangat dan bersihkan niat, Allah sudah janjikan pertolongannya kepada kita. Sebagaimana firman Allah:

Qs Muhammad : 7. Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.

QS. Al Ankabut : 69. Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.

Semoga Allah senantiasa menjaga hati-hati kita dan menjadikan kita agar senantiasa istiqomah di jalan dakwah. Wallaahu a’lam bis showab.

MENAKAR KOMITMEN PERJUANGAN

Oleh : Agung Wicaksono (Awie’)*

Rijalud Dakwah adalah seorang yang telah tertarbiyah secara intensif sehingga memiliki kesiapan untuk berjuang dan berkorban di jalan Allah. Ia juga berpotensi menjadi anashirut taghyir atau agen perubah di tengah masyarakat.  Oleh karena ia melakukan pekerjaan besar maka ia harus memiliki kemampuan dan daya tahan untuk melakukan perkerjaan itu. Ia juga harus memiliki karakter kuat, teguh, sabar, komitmen dan kesungguhan dalam berkerja (berdakwah). Di usia tarbiyah yang lebih dari 25 tahun di negeri ini, ternyata banyak hasil dari buah dakwah yang sudah bisa kita rasakan, mulai dari kemudahan kita untuk melakukan aktivitas dakwah, semakin besarnya tingkat penerimaan publik terhadap dakwah, sampai pada munculnya rijal dakwah yang sudah menjadi tokoh, baik lokal maupun nasional. Namun di sisi lain dalam perjalanannya tidak sedikit dari pekerjaan – pekerjaan dakwah yang belum tuntas, peluang – peluang yang belum teroptimalkan, yang semua ini membutuhkan kehadiran kader dakwah untuk masuk ke dalam ruang pekerjaan amal ini. 

Sebagaimana firman Allah dalam QS 33:23 : Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu – nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya). Kita sedang menunggu tampilnya rijal dakwah yang siap untuk meneruskan pekerjaan besar ini, pekerjaan yang butuh perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan bahkan untuk menyelesaikannya membutuhkan waktu lama. Selain itu, perkerjaan besar ini membutuhkan syarat kecukupan dan kecakapan kader dalam  mengisi peluang  – peluang amal.  

Oleh karenanya sudah saatnya para rijal dakwah menakar kembali komitmen perjuangannya, paling tidak ada 5 indikator untuk mengukur seberapa besar kesungguhan (komitmen)  perjuangan yang dimiliki oleh seorang kader : 1.       Responsif terhadap agenda dakwah (al fauriyatul littanfidz)Allah berfirman dalam QS. 29:69, ”Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”. 

Ayat tadi memberikan gambaran bahwa Allah memberikan motivasi kepada rijal dakwah untuk senantiasa berada pada orbit terdepan dalam merespon seruan dakwah. Ketika kita telah memilih dengan sadar bahwa dakwah adalah panglima, maka konsekuensinya adalah bagaimana seorang kader akan menyambut seruan itu tanapa reserve, sebagiamana sambutan sahabat Handzallah yang pada saat tu baru menikah dan menikmati malam pertamanya tiba – tiba ada seruan dari Rasulullah untuk berangkat  berjihad.  Sebagai manusia biasa bisa diyakini telah terjadi pergolakan hati antara merespon seruan dakwah dan keinginan untuk tetap tinggal bersama belahan hati. Namun ternyata Handzallah menunjukkan integritasanya sebagai seorang rijal dakwah. Ia berusaha memenuhi seruan dakwah hingga menemui kesyahidan. Dari kisah tersebut Handzallah telah memberikan inspirasi kepada kita untuk tetap memiliki komitmen perjuangan hingga menggapai kesyahidan. 

2.       Kemauan yang kuat  (quwwatul iradah)Di lapangan amal masih sering kita jumpai permasalahan kader yang terkait dengan kemauan untuk menyambut agenda dakwah. Melemahnya kemauan untuk merekrut dan membina, menurunnya semangat untuk menghadiri agenda dakwah, menghindari amanah, dan ketidakmauan untuk tetap berada pada komunitas dakwah merupakan kenyataan dari sekian banyak problematika yang harus segera diselesaikan.  Harus ada kemauan, obsesi, serta keyakinan yang besar agar kader tetap bisa eksis dalam aktivitas dakwah. Ya, rijal dakwah harus memiliki obsesi keimanan yang membuatnya merasa jenak untuk tetap berada pada ruang kecintaan  Allah dan Rasul-Nya.  

Kita melihat kisah Umair bin Al Hammam yang mengeluarkan kurma di tangannya, memakannya, lalu berkata, ”Jika aku hidup untuk makan kurma – kurma ini maka itu terlalu lama, lalu ia buang kurmanya dan bertempur di medan Badar hingga terbunuh”. Kemauan yang sangat luar biasa, perlu kekuatan intuisi dan ketajaman mata hati untuk bisa melaksanakannya dan itu telah dibuktikan oleh Umair bin Al Hammam untuk mendapatkan kehidupan yang abadi. Rijal dakwah sudah seharusnya melakukan evaluasi amal yang selama ini telah dilakukan, mengukur kembali komitmen perjuangan. Sudah tidak saatnya lagi rijal dawah masih menimbang – nimbang antara kepentingan pribadi dengan seruan dakwah. Di sinilah rijal dakwah bisa mengukur apakah selama ini dia telah memiliki komitmen perjuangan yang maksimal ataukah belum. 

3.       Tetap tekun  dalam melaksanakan da’wah (mutsabaratu ’alad da’wah)Tetap tekun di jalan dakwah merupakan salah satu konsekuensi dari keimanan. Iman bukanlah sekedar kata – kata yang diucapkan melainkan sebuah kewajiban dan tanggung jawab serta jihad yang membutuhkan kesabaran dan kekuatan. Tidak mungkin seorang rijal dakwah mengatakan kami percaya pada Islam dan dakwah tanpa berhadapan lebih dahulu dengan ujian dakwah. Rasulullah yang tetap tekun menjalankan aktivitas dakwahnya, walaupun harus melewati teror secara psikis, caci maki, fitnah dan bahkan perlawanan secara fisik dari orang – orang Quraisy, namun beliau tetap tekun dan sabar untuk tetap menjalankan aktivitas dakwah. Rijal dakwah akan bisa menakar seberapa besar komitmen perjuangannya apabila ia telah teruji di berbagai ujian dakwah, melewatinya dan kemudian tersenyum untuk memetik buah dakwah yang telah ditanamnya setelah sekian lama. Di sinilah kematangan seorang rijal ditentukan, ia akan semakin matang dan dewasa  dalam menyikapi persoalan – persoalan dakwah seteleh sekian lama berinteraksi dengan medan dakwah itu sendiri.   

4.       Mengerahkan potensi maksimal (taskhiirul amkinat).Rijal dakwah yang dibutuhkan sat ini adalah rijal yang memiliki kemampuan memelihara dan mengembangkan potensi kebaikan yang ada pada dirinya (tarqiyah tarbawiyah) yang mampu mengalirkan energi kebaikannya untuk mentransformasikan nilai – nilai Islam kepada masyarakat. Dia harus mampu mengkloning keshalehan pribadai menjadio keshalehan sosial. Dia belum dikatakan memiliki kesungguhan dalam komitmen perjuangan kecuali ia telah melakukan pekerjaan ini secara tulus. Mungkinkah seorang kader berdiam diri sementara ummat telah menunggu keterlibatannya dalam proyek amal? Karena kalau ia berdiam diri tidak mau mengerahkan seluruh potensinya, maka pada saat itu berarti ia telah menelantarkan para pendukung dakwah. 

5.       Mengalahkan udzur pribadi (mugholabatul i’dzar).Afwan saya tidak bisa hadir karena sibuk, afwan saya tidak bisa datang karena ngurus anak, atau mungkin afwan saya tidak bisa ikut syuraa karena capek. Itu kira – kira ungkapan – ungkapan yang sering kita dengarkan dari lapangan dakwah. Sibuk, lelah dan capek memang konskuensi dari pekerjaan dakwah. Tetapi masalahnya apakah kita sudah yakin bahwa seluruh aktivitas hidup kita semuanya sudah terkait dengan agenda dakwah, ataukah semua aktivitas kita adalah aktivitas untuk pemenuhan hasrat duniawi kita, atau mingkin semua itu hanya alasan – alasan yang bisa kita ungkapakan kepada para rijal dakwah yang lain agar kita tidak terlibat dalam proyek dakwah? 

Kita bisa mendapatkan pelajaran tentang masalah ini dari kisah perang tabuk, bagaimana Ka’ab bin Malik tidak turut serta dalam peperangan yang sangat menguras tenaga karena panasnya cuaca pada saat itu tanpa alasan syar’i. Allah dan Rasul-Nya telah memberikan uqubah (hukuman) berupa boikot komunikasi. Uqubah ini dirasa cukup untuk dijadikan illaj (proses perbaikan) bagi seorang kader. Rijal dakwah perlu merenungkan kembali apakah udzur – udzur kita selama ini karena aktivitas dakwah yang lain, ataukah hanya sekedar alasan – alasan yang mungkin bisa dihadirkan secara rasional kepada setiap orang yang mendengarkan, sehingga yang mendengar bisa memberikan permakluman terhadap ketidak hadirannya dalam agenda dakwah. Dan kemungkinannya, semakin lama usia tarbawy seseorang semakin bisa dan mudah ia menyampaikan alasan – alasan kepada obyek dakwah. 

Amir bin Jamuh ra, sangat ingin ikut dalam peperangan walaupun kakinya cacat dan mendapat larangan dari anak – anaknya dalam berjihad, tetapi ia tidak mau mengambil rukhshah yang telah diberikan, ia telah memilih berada dalam komunitas orang – orang terpilih di jalan Allah. Bagaiamana dengan kita? Kesiapan untuk komitmen di jalan dakwah merupakan salah satu sifat kader dakwah yang penting. Karena tanpa komitmen perjuangan dakwah tidak akan pernah eksis, dan tujuan – tujuannya tidak akan pernah tercapai. Rijal dakwah akan mampu memiliki kemampuan memikul beban dan amanah ketika telah memiliki lima indikator di atas. Sudahkah kita menakar komitmen dakwah kita? Semoga Allah senantiasa memberikan kekuatan dan keistiqomahan pada setiap langkah dakwah kita. Wallahu a’lam. 

*) Ketua Deputy Pelajar dan Mahasiswa Jatim